Leave a comment

Jangan Berpura-pura

Kalimat ini mungkin bagi sebagian anda akan mengesalkan atau bisa jadi kurang anda fahami “jangan berpura-pura dengan diri anda sendiri” jadi saya tidak akan membantu setan sehingga anda semakin larut dalam godaan dan dosa cinta yang tidak halal.

Ya bagi Anda yang masih menunggu, mencari-cari ataupun mendambakan cinta dari seseorang, anda mesti berhati-hati dengan perasaan itu. Karena mesti diyakini sedari awal bahwa jodoh tentang siapa dan kapan itu akan hadir sudah Allah catatkan dan tentukan dalam kitab Lauhul Mahfudz. Tinggal bagaimana cara kita berikhtiar mendaptkannya, tentunya sebuah ikhtiar yang suci dan doa yang penuh kerendahan dihadapannya –bukan ikhtiar yang serampangan sehingga mengabaikan kesucian niat, melupakan cara-cara para orang sholih mengusahakannya-bukan juga dengan do’a yang memaksa dan mendikte sehingga seakan-akan kita khawatir Allah salah memberikan takdirnya untuk kita)– toh mau kita ambil jodoh kita dengan cara halal atau haram ya dapetnya itu juga — yang membedakan rasa berkahnya –

Sederhananya mari kita memohon kepada Allah sehingga Ialah nanti yang menitipkan rasa cinta itu untuk tiap-tiap kita bukan malah kita mencari-cari, membuat-buat, berpura-pura, bahkan sampai mengoda diri untuk menanamkan sendiri rasa cinta itu menurut persepsi kita sendiri. wallahualam

Ya Allah, ampuni kami yang tahu bahwa siksa neraka itu ada; tapi masih sering membayangkan alangkah nikmatnya dosa-dosa.

Ya Allah, ampuni kami yang tahu bahwa semua ‘amal direkam & akan diperlihatkan, tapi masih tak bermalu berlaku yang menistakan.

Ya Allah, ampuni kami yang meyakini bahwa surga itu nyata; tapi kadang masih merasa alangkah beratnya ibadah, taat & taqwa.

Ditulis di ujung malam ke-26 di bulan April 2012, 

—Just mengingatkan tentang perilaku seseorang—

 

Bonus tulisan dari Ust Anis Matta tentang cinta

(kalau tidak salah ada juga di buku serial cinta)

 “Ketika Cinta Tertolak”

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’ lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayapAku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita! ~ Anis Matta ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: